Warta Ekonomi.co.id, Jakarta - Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta berusaha untuk menuntaskan masalah kekeringan yang sudah puluh tahun melanda Desa Giripurwo, Purwosari, Gunungkidul, dengan cara melaksanakan kegiatan Water Project.
Wildan Salsabila, salah satu mahasiswa UGM yang tergabung dalam kelompok Kuliah Kerja Nyata Pemberdayaan kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada (KKN-PPM UGM) mengatakan Water Project memiliki tiga program utama, yakni pembuatan sumur bor dan penampungan air, pipanisasi, serta pengadaan MCK dan sanitasi umum.
"Tujuan pengabdian kepada masyarakat UGM adalah untuk melaksanakan kegiatan yang mampu mendorong kemandirian dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. KKN-PPM UGM adalah salah satu bentuk nyata komitmen kerakyatan dan kebangsaan Universitas Gadjah Mada," katanya kepada Warta Ekonomi dalam pesan singkat yang diterima di Jakarta, Sabtu (27/8/2016).
Wildan Salsabila menjelaskan keadaan warga Desa Giripurwo selalu mengalami kesulitan air setiap tahun. Ia mengatakan sumber air di desa tersebut begitu terbatas dan struktur tanah karts/kapur membuat tanah tidak bisa menahan air sehingga langsung mengalir menuju sungai bawah tanah yang kedalamannya hingga mencapai 100 meter.
"Adapun sumur dangkal yang dibuat warga jumlahnya sangat terbatas. Di tiap dusun hanya ada sedikit sekali sumur untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan itu pun hanya bertahan selama musim hujan. Artinya, begitu musim kemarau tiba dan hujan tidak turun maka sumur-sumur tersebut kering dan praktis warga kehilangan satu-satunya sumber air. Kondisi tersebut sudah berlangsung selama puluhan tahun dan umumnya warga sudah pasrah dengan kondisi tersebut," ujarnya.
Ia mengatakan jika sudah tiba musim kemarau maka warga terpaksa membeli air tangki yang telah disediakan oleh Ketua RT setempat atau pemerintah daerah seharga Rp120.000-200.000 per 5.000 liter. Adapun, bagi warga yang tidak mampu maka hanya bisa menunggu bantuan pemerintah atau bergantung pada sumber mata air yang debitnya kecil dan dengan pengorbanan menghabiskan waktu antrean satu hari untuk mendapatkan satu jerigen air.
"Untuk itu, tim KKN-PPM UGM secara konsisten berusaha mencarikan solusi untuk masalah tersebut dengan menggagas program Water Project untuk Desa Giripurwo," sebutnya.
Berdasarkan eksplorasi yang dilakukan di lapangan, Wildan mengatakan pihaknya menemukan potensi sumber air bawah tanah yang salah satunya adalah sumber air di Laut Bekah di mana terdapat sungai bawah tebing setinggi 80-100 mdpl. Ia menuturkan UGM bersama warga desa menginisiasi pengangkatan sumber air Bekah tersebut.
"Diketahui, sumber air Bekah tersebut memiliki debit minimal 30 L/detik (sepanjang tahun) yang cukup untuk 3.000 KK. Jumlah yang cukup untuk meng-cover kebutuhan air di Kecamatan Purwosari. Alhamdulillah, inisiasi proyek tersebut dapat ditindaklanjuti," terangnya.
Dijelaskan proyek ini merupakan proyek ini terbagi menjadi proyek jangka panjang dan proyek jangka pendek. Ia mengatakan bahwa untuk proyek jangka panjang berupa pipanisasi yang dimulai dari desain hingga realisasi. Adapun untuk proyek jangka pendek adalah pengadaan water torrent sebesar 5.000 L di beberapa dusun sebagai tempat penampungan air dari sumur pada musim penghujan dan tempat penampungan air bantuan pada musim kemarau.
"Ada jangka panjang dan ada jangka pendek. Yang jangka panjang kita gerak mengusulkan, mengonsultasikan, dan mendampingin proyek pengangkatan sumber air Bekah. Tahun depan proyeknya mulai. Kalau yang jangka pendek itu kita menyiapkan infrastruktur di hilir, yakni RT dan RW meliputi pipanisasi, pompa air, dan penampung-penampung air. Buat apa? Buat menampung dan mendistribusikan air selama sumber air Bekah belum jadi dan nanti kalau sudah jadi micro-subproject ini bisa diintegrasikan dengan infrastruktur proyek," imbuhnya.
Ia mengatakan bahwa untuk program jangka pendek membutuhkan dana sekitar Rp60 juta. Ia mengatakan pembiayan program ini berasal dari bantuan berbagai pihak, termasuk sumbangan dari masyarakat.
"Untuk yang jangka pendek, Water Project tahun ini menggelontorkan dana sekitar Rp60 juta untuk semua program. Sumber dana Rp60 juta itu sebagian besar dicari oleh teman-teman lewat alumni UGM. Dari pihak kampus memberi Rp5 juta dan dari fakultas Rp5 juta. Sisanya hampir semua kita yang mencari. Untuk yang proyek sumber air Bekah butuh dana miliaran rupiah dan biaya dari Kemen Pupera," ucapnya.
Adapun, program KKN-PPM UGM yang dijalankan di Desa Giripurwo telah dimulai sejak tahun lima silam yang melibatkan enam angkatan mahasiswa.
"Tim dosen yang terlibat dalam kegiatan tersebut adalah Dr. Sudaryanto. M.Si.; Iswari Nur Hidayati, M.Sc.; Ari Cahyono, M.Sc.; Totok Wahyu Wibowo, M.Sc.; yang semua dosen berasal dari Fakultas Geografi UGM Jurusan Sains Informasi Geografis Prodi Kartografi dan Penginderaan Jauh," sebutnya.
Ia mengaharapkan bahwa dalam jangka pendek warga Desa segera bisa terhindar dari musibah kelangkaan sumber air bersih.
"Khususnya di tahun 2016 ini untuk menghadapi musim kemarau tahun ini yang mulai melanda. Juga biar ke depan di tahun-tahun selanjutnya apa yang kita berikan bisa berguna dan benar-benar menyelesaikan permasalahan warga tentang air," pungkasnya.
Editor: Cahyo Prayogo
Foto: Fadhli | UGM


http://wartaekonomi.co.id/read/2016/08/27/111362/menuntaskan-masalah-kekeringan-di-desa-giripurwo.html

0 response:

Posting Komentar

 
Top